Translate This Page

Facebook Share

Rabu, 30 Desember 2009

...::: Membuat Biogas dari Kotoran Hewan :::....





ENERGI DARI KOTORAN SAPI UNTUK MASAK, PENERANGAN DAN LEMARI PENDINGIN


Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Pepatah itu dilaksanakan oleh
Kelompok Alam Lestari Cangkola, Sumatera Barat yang jauh-jauh melakukan studi banding
ke Yogyakarta, Magelang, dan Banjarnegara.

Keinginan peserta musyarawah Jurong Gantiang Koto Tuo yang ingin melepaskan diri dari ketergantungan pada bahan bakar minyak dan kayu bakar makin menguat. Sementara para petani Jorong Gantiang Koto Tuo yang sudah lama mempraktikkan pertanian organik belum puas melihat hasilnya.

Beberapa petani di Jorong Gantiang Koto Tuo melakukan studi banding ke lahan Institut Pertanian Organik (IPO) di Aia Angek yang dibangun oleh Kepala Dinas Pertanian Tingkat I Sumatera Barat. Lalu pada 11 Februari 2007, beberapa orang petani mengikatkan diri dalam sebuah kelompok yang akan menerapkan pertanian alami di Jorong. Mereka memberi nama kelompok itu Alam Lestari.

Kemudian kelompok melakukan studi banding pertanian organik ke Banjarnegara, dan belajar teknologi Biogas di Yogyakarta. Lembaga Ekonomi Jorong memilih tiga orangn petani, Bulkanedi Sati Batuah, Yotri St. Batuah, dan Analis untuk mengikuti studi banding tersebut.

Belajar Teknologi Biogas dan Pertanian Alami.

Image
Foto diambil dari Kompas, Oktober 2007
Di kampung halaman, Pak Tuah, Pak Jorong, dan Tek Malih pernah membuat gas sederhana menggunakan drum. Tapi di Lembaga Pengembangan Teknologi Berbasis Masyarakat (LPTP) Kayen, Yogyakarta, mereka menyaksikan instalasi gas permanen yang sangat menarik. LPTP mengembangkan tiga jenis biogas berdasarkan  sumber penghasil gas, yaitu  biogas dari kotoran manusia, kotoran ternak, dan limbah tahu. Di kantor LPTP telah terpasang sebuah instalasi biogas dari kotoran manusia. Mereka memanfaatkannya untuk memasak, kulkas, penerangan dan pemanas air. Risiko kebakaran dan ledakan juga rendah.

"Pada prinsipnya pembangunan instalasi biogas untuk segala jenis kotoran sama, yang membedakan hanya jenis pembuangannya saja," jelas Nining Community Organizer yang mendampingi Jorong Gantiang Koto Tuo, Sumatera Barat. Instalasi biogas dari kotoran manusia lebih rumit dibandingkan bangunan biogas dari limbah lainnya. "Kotoran manusia mengandung unsur-unsur yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Sehingga dibutuhkan bak-bak penyaringan untuk menyaring ampas buangan tersebut sebelum di salurkan ke sungai".

Untuk membangun sebuah instalasi biogas (Biodigester) yang bisa memenuhi kebutuhan energi rumah tangga, sebuah rumah tangga harus memiliki minimal 3 ekor sapi. Energi dari tiga ekor sapi ini bisa dimanfaatkan untuk memasak, memanaskan air, penerangan (lampu petromaks) dan untuk lemari pendingin.

ImageDi Banjarnegara, para peserta menimba ilmu pertanian alami dari Setyastuti Orbaningsih, Technical Assistant (TA) Bina Desa. Mereka mempelajari pembuatan pupuk, nutrisi, mikroba, teknis penerapannya, lahan pertanian (sawah kering, kolam), ternak, pertanian konvensional, pertanian kimia, pertanian organik, semi organik, pertanian alami, menejemen pertanian alami, kunjungan lapangan, dan industri rumah. Selain itu, mereka mempelajari pengelolaan limbah pertanian, seperti limbah ternak sapi, kerbau, ayam, kambing, limbah hijauan sisa tanaman.

"Kotoran Ayam yang dipelihara secara konvensional, tidak baik digunakan sebagai pupuk," ujar Nining. "Karena makanan ayam ini mengandung bahan kimia sehingga sulit terurai dengan proses apapun".

Nah, semakin kuatlah tekad para petani untuk mempraktikkan teknik pertanian alami di kampung nanti.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share

Asma Ul Husna- Hijjaz

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Playlist